Cerita Dewasa Dua Bulan Jadi Budak Dokter Sange

Posted on
Agen878

Cerita Dewasa Dua Bulan Jadi Budak Dokter Sange – Namaku Yanto. Setelah kerja 2 tahun lebih, saya dipindahtugaskan ke kota B ini, tidak seramai kota besar asalku, tapi lumayan nyaman. Aku meminjamkan lokasi tinggal kakakku yang menemani suami di luar negeri. Sekaligus mengawal dan mengasuh rumahnya, ditemani seorang mbok yang menyukai tua yg menginap, dan tukang kebun harian yang kembali di tengah hari. Dua bulan telah aku bermukim di lokasi tinggal ini, biasa-biasa saja. Oya, lokasi tinggal ini berlantai dua dengan kamar istirahat semuanya terdapat lima, tiga di lantai bawah dan dua di lantai atas. Lantai atas guna keluarga kakakku, jadi aku menduduki lantai bawah. Di samping kamar tidurku terdapat ruang kerja.Aku biasa kerja disitu dengan seperangkat komputer, internet dan lain-lain.

Suatu ketika, saya datang ke seorang dokter gigi, drg Retno, ditemani asistennya, Tina. Mereka ingin mengkontrak satu kamar dan garasi guna prakteknya. Untuk itu perlu dulu. Aku menghubungi kakakku melewati sarana komunikasi yang ada, mohon persetujuan. Dia membolehkan sebelum tanya-tanya ini itu. Maka pelaksanaan kegiatan dan akan berlalu 20 hari lagi.

Agen878

Sementara itu drg Retno menugaskan Tina untuk bermukim di kamar istirahat yg dikontrak juga, di samping garasi yg siap disulap jadi ruang untuk berlatih. cerita dua anak manusia berbeda jenis dan bermukim serumah….

Suatu hari, mbok mohon izin pulang dusun setelah bekerja 9 bulan lebih tanpa menengok anak cucunya. Aku menyambut mbok pulang. Mbok akan membantu penolong tetangga berhati-hati terhadap makanan untuk aku sekitar mbok pulang.

Nah, pagi hari tersebut aku mengantar mbok ke setasiun bus dengan mobil kantorku, baru kembali untuk memungut berkas dan berangkat lagi ke kantor. Tina pergi ke dokter gigi Retno dengan motor, sering kali jam delapan pagi telah kabur dan kembali jam lima atau enam petang, pada banyak pasien. Bagi praktisnya, setiap membawa kunci lokasi tinggal sendiri.

Tina terbit kamar mandi dengan sarung memblokir bagian dada hingga pinggul. Dia menempatkan pakaiannya, tergolong BH dan celana dalam kuning, di meja. Dia kemudian melirik tersenyum, “Lihat BH dan celana dalamku? Nih, biar puas melihatnya.” Dia mendekati aku kemudian memamerkan BH dan celana dalamnya ke dekat. Aku mendekatkan hidungku pada celana dalamnya, namun dengan cepat dia menariknya seraya tertawa.

Dua detik kemudian, dia merebahkan diri di sebelahku. aku selamat melihat wajahnya, berpandang-pandangan beberapa puluh detik. Kudekatkan bibirku pada pipi, dahi, lalu… ke arah. Dia melumati bibirku, perlahan mulanya. Lalu bergoyang membuka mulut, sehingga sekarang mulutku dapat menjilata berlaga ke kiri ke kanan, kemudian bertemu dengan lidahnya. Tina menghembuskan napasnya untuk melaksanakan tersengal, kemudian mengisap mulutku secara bergantian. Lengannya merangkulku, dan kini, yah, benarlah, dadaku dengan buah dada Tina yang kencang mencuat dan berputing keras.

Tempat-Bacol

Dalam berahi yang kian membara, aku dan Tina tidak memiliki gagasan apa-apa lagi. Tiga gerakan cukuplah melepas sarung-sarung itu, sampai-sampai tubuh Tina yang telanjang bulat telah nempel erat dengan tubuhku. Dia mendorongku sampai-sampai telungkup di atas tubuhku yang telentang, seraya terus mengisap dan mengisap mulut sambil bergoyang-goyang ke kiri kanan dan buah sebaliknya mengurangi menggeser-geser di dadaku.

Aku telah terbawa ke awan yang tinggi. Lenganku merangkul tubuhnya erat-erat, jembut Tina bergesekan dengan jembutku, aduh bukan main nafsuku berbaur dengan nafsu Tina. Kemaluanku yang telah keras bergesekan dengan bibir video Tina, pahanya bergerak-gerak sebentar mengapit pahaku sebentar menindih dan entah gerakan tersebut apa lagi.

Sebelas menit kemudian Tina mencungkil diri, mengusung tubuhnya seraya memandangku. “Bagaimana rasanya, enak dan nikmat..?” Aku jawab, “Bukan main… Tina, oh ina, buah dadamu.. padat mencuat, aku nikmat sekali. kamu merasa nggak… jembut kamu beradu? Jembutmu yg tebal, tingkatkan nikmatnya….” Belum sempat kalimatku selesai.

Tina telah menindihku lagi, kali ini dia membuka lengannya sampai-sampai lidahku dapat menjilat ketiaknya yang halus tidak berambut.

Kucium ketiak Tina sejumlah saat, dan tubuhnya menggelinjang. “Ohh, Yan… Yanto… geli sekali rasanya…” Aku pindah ke ketiak yang satu lagi, dan Tina pulang menggelinjang. “Kamu gemar sekali ya, menilat ketiak cewek?” Kujawab, “Ketiakmu harum dan estetis bukan main. … Siapa yang dapat tahan tidak mempedulikan tidak dicium?” Kujilati terus kedua ketiaknya, dan Tina mengaduh-aduh nikmat nikmat. Didadaku masih memanfaatkan buah dengan menggeser-geser. Pinggulnya bergoyang terus, sampai sebuah ketika, dia berteriak, “Yanto… aku nggak tahan…. Ayo kamu di atasku…”

Aku memutar sehingga sekarang berada di atas tubuh Tina. Kedua lengannya merangkul punggungku, “Duh,.. tubuhmu sungguh kekar… aku paling menikmati…. Ohh….” Sekarang aku menindih buah mendekat, seraya mulutku mengisap-isap dan adalahap mulut. Lidah Tina masuk ke dalam mulutku dan kuisap, alu giliran lidahku mencari mulut. Tina menggelinjang, kemudian membuka kedua pahanya. “Masukkan videomu…. pelan-pelan ya, besar sekalimu videomu… ooohhh… sudah masuk semuanya… oohh nikmatnya… nikmatttt….” Pinggulnya bergoyang turun semakin cepat seiring dengan gerakan naik turun pinggulku.

Terasa videoku diapit dan disedot musiknya. Aku mengeluh, “Tina, videomu sempit… duhh nikmatnya diapit dan… disedot videomu… ooohhh Tina…” Dia menjawab, “Yan… tidak boleh keluar dulu ya…. Aku masih ingin lama nih, merasakan … persetubuhan ini..” Lalu menggelinjang hebat ke kiri ke kanan, mulut tertutup rapat dalam mulutku dan menerbitkan suara lenguhan seorang wanita yang sedang nikmat.

Gerakan dan Tina memunculkan bunyi kecupak-kecupak ketika videoku menjebol jembut dan buku yang telah basah. Aku bertanya, “Tina, bolehkah kujilat jembutmu,…kemaluanmu…?” Segera dia kepala, meski sedikit pun mulutnya masih dalam mulutku. “Jangan,…tidak boleh dilepasss… nanti saja… oohh,… nikmatnya…” Aku menggeserkan tubuh Tina kesamping, supayua sekarang beban tubuhku.

Baca Juga : Cerita Sex Tanteku Yang Ku Tiduri Di Rumah Sakit

Dia disampingku seraya lidahnya terjulur mohon diisap. “Tina,…. aku mohon ludahmu…” Dia menjulurkan lidahnya, kali ini ludahnya. langsung kuisap dan kusedot mulutnya dan kuisap ludahnya semua. Tina menggelinjang. “Kamu di bawah, mau…” Aku menggeser kembali, telentang di bawahnya. Tubuh Tina secara keseluruhan menindih tubuhku, buah-buah peninggalan tertinggal berpindah-geser. Kemaluanku sukses masuk dari bawah, ditolong tangan Tina. Tina mengdesah, “Ooohh… aduhhh… nikmatnya, aduuhh… keterampilanmu memenuhi….

Kemaluanku sarat musikmu, ohhh… terus, Yanto, terus genjot dari bawah…. Oohh…. Ohhh, nikmat sekali,…. “Gerakan tubuh Tina dan aku kian cepat sampai,” Aku tidak…. Tidak tahan lagi…. Mau keluar…. Oohhh… keluar… Yanto…! Aku telah keluar…. teruskan, teruskan…. Masih nikmat…. Mau lagi.. Yanto…. Kemaluanmu… nikmat sekali….. adu jembut, nambah nikmat…. Aku mau terbit lagiiii…! Yanto, aku …tidak tahan, …keluar lagi, telah dua kali… sekarang anda dong, semprotkan manimu… ooohhh… ohh… terus Yanto, anda harus puasss…” Aku bergerak terus, namun pengaruh krim duratif membuatku tidak mudah keluar.

Aku berbisik, seraya lidahku menjilati lehernya, “Tina, masih nikmat… atau yang kamu inginkan ke kamar mandi dulu, kemudian timbul masalah istirahat 30 menit dan ….. mulai babak kedua…?” Tina berbisik mesra. “Aku mau, Yanto, berkali-kali semalam suntuk bersetubuh dengan kamu…. Sekarang ke kamar mandi dulu… “ Dia beringsut yang diinginkan turun dari ranjang tidur, dengan menggapai tisu kemudian mengelapnya. Llau berlangsung beringsut seraya terus merekam jaringan di video. Aku menyusul dia. Kemaluanku basah dengan air mani Tina, namun tidak hingga mengucur.

Di kamar mandi, Tina berbisik, “Yanto, kamu… hebat… sebagai laki-laki, dapat memuaskan aku berkali-kali.” Aku menjawab, “Baru dua kali, Tina…” Dia tersenyum, berbisik, “Semalam suntuk dapat berapa kali, ya? Aku kepningin terus, berahiku tidak…. tidak terbendung, telah ditahan berhari-hari. Untung mbok pergi ya, jadi anda bebas….” Aku menunduk, kemudian kuserbu mengumpulkannya, kuciumi jembutnya, kujilati hingga dia pulang dengan nikmat.

Indojaya168