Cerita Dewasa Gadis Kampus Menantangku ML

Posted on
Agen878

Cerita Dewasa Gadis Kampus Menantangku M L- Ketika hari pertama saya masuk kuliah, saya tidak mengenal siapa pun dan tidak mengenal siapa-siapa, saya seperti orang yang kesasar dan kebingungan, saya hanya celingak celinguk tidak jelas. dan tiba-tiba ada* cewek yang menegurku, ‘Eh, tau ruang belajar* MI1-3 nggak?’. Eeiittss.., ternyata aku pun* cari ruang belajar* itu.., kemudian* aku jawab, ‘mm.., saya pun* tidak tahu, mendingan cari sama-sama yuk’.

‘Saya Gita’ dia sebut namanya duluan. ‘Aku Iwan’, aku sebut namaku juga, di situlah aku mulai punya nama* Gita. Cewek manis ini memiliki* kulit kuning langsat, hampir* tanpa cacat, tinggi badan kira-kira 166 cm, dengan berat 49 Kg. tapi yang buat* aku tidak jenuh* melihat* melihat* yang menantang, lumayan* besar* guna* ukuran, namun* tidak* besar sekali.

Agen878

Begitu pula dengan pantatnya, aku sangat* suka kamui* dia menggunakan* jeans ketat, dengan kaos oblong warna putih. Kadang andai* bercanda, ngomongnya nyerempet-nyerempet porno terus, walaupun sekali-sekali saja. Tiga bulan telah* namun aku dekat dengannya, jalan kemanapun tidak jarang* kali* bersama, walaupun dia belum sah* jadi pacarku,* aku dan dia tidak jarang* kali* berdua kemanapun. Sampai kesudahannya* aku dan dia pergi jalan-jalan ke wilayah* Dieng, salah satu wilayah* dingin di Jawa Tengah, niatnya hanya* jalan-jalan saja, tidak menginap.

Entah mengapa* hari ini dia mengajakku berkelakar* yang berbau porno terus, dari pagi sampai* siang hari. Sampai kesudahannya* ia bertanya begini, ‘Wan, bila** kamu punya istri suka yang buah dada nya besar atau sedeng-sedeng saja?’. Lalu aku jawab ‘Mm.., yang kayak apa ya?, kayaknya aku suka yang laksana* punya kamu tersebut* lho’. ‘Lho emang kamu* pernah liat punyaku?’, tanya dia. Aku bilang ‘Gimana yang diinginkan* liat, orang kamunya ajah nggak pernah kasih kesempatan.., heheheh’. Dia bertanya lagi sambila* bercanda, ‘Kalo aku kasih peluang* gimana?’.

Aku jawab, ‘Yaa.., nggak aku sia-sia’in’. ‘Emang berani?’, tantang Gita. ‘Siapa takut..’, jawabku tidak ingin* kalah. ‘Kalo gitu bukti’in!’, kata Gita. ‘Oke.., anda* cari losmen sekarang.., gimana?’, tantangku gantian. ‘Siapa takut..’, kamu tidak ingin* kalah juga. Jujur saja aku masih berpikir bahwa ini berkelakar* saja, hingga* tiba-tiba di depan suatu* losmen, dia berkata, ‘Wan, disini ajah.., sepertinya losmennya bagus tuh’. ‘Deg!!’, jantungku terasa berhenti. Dengan ragu-ragu kuarahkan mobilku masuk ke halaman losmen tersebut. Aku masih diam dan tidak percaya* Terus dia berkata, ‘Kamu angkat tas-tas kita, aku yang check in.., OK?’.

Seperti babu untuk* majikannya, aku ikuti kata-katanya dan ikuti tahapannya* masuk ke losmen. Masuk ke kamar losmen langsung anda* tutup dan kunci pintunya, aku masih duduk di atas kasur hingga* dia berkata, ‘OK, kini* aku kasih kamu* kesempatan liat dadaku, tapi tidak boleh* macem-macem yaa?’. Tiba-tiba saja Gita unik* kaosnya ke atas, dan langsung membuang* ke atas lokasi* tidur. Lalu dia terdiam sambila* mengamati yang pun* terdiam, sebenarnya* aku terpana sedang.

Beberapa ketika* dia arahkan tangan kanannya ke pundak kirinya, digesernya tali BH-nya jatuh ke lengan. Lalu gantian tangan kirinya ke pundak kanan mengerjakan* hal yang sama. Lalu tangan kanannya ditunjukkan* ke punggung, namun* tangan kirinya masih memegangi BH tidak perlu* pujian. Oh God.., Nafasku terasa berhenti di tenggorokanku.., BH-nya sudah* terlepas, namun* masih disangga* bagian dari tangan kirinya. Gita terus memandangiku. Gita menggigit bibir tidak ubah* bawahnya.

Tiba-tiba ia berkata, ‘Aku akan* lepas ini, andai* kamu tidak buka pakaianmu semuanya’ Aku ragu-ragu.., namun* nafasku telah* tidak* dapat* diatur lagi.., aku buka kaosku.., aku buka kaosku.., aku buka kaosku.., aku buka kaosku.., aku buka kaosku.. kaosku.., aku buka kaosku.., aku buka kaosku.., aku buka kaosku.. kaosku.. jeansku.., kemudian* aku berhenti, bermukim* celana dalam yang aku kenakan.., gantian aku yang menantang, ‘Aku nggak bakal* buka ini, andai* kamu nggak lepas tersebut* sekarang’ Gita diam kemudian* dia turun perlahan tangan kirinya dan kesudahannya* terlihat jelas buah dada nya yang kuning langsat dan benar-benar menantang.

Tempat-Bacol

belum sempat aku merasakan* pemandangan ini, tiba-tiba aku melihat ke arahku dan mendorongku telentang di kasur, dengan cepat dekat* bibirku. Aku yang masih kaget bakal* serangan seketika* ini tidak menyia-nyiakannya, kami saling berciuman, saling melumat bibir, ‘uugghh.., oohh..’, melulu* kata tersebut* yang Gitakan. Tiba-tiba saja di berdiri, dalam 5 detik celana jeansnya telah* terlepas. Kami sama-sama melulu* memakai celana dalam saja, saling pandang tetapi* langsungkan* 6 detik, dengan ia* celana dalamku turun dengan cepat dan mematikannya hanya.

Gita tersenyum dan tidak banyak* tertawa, aku tak tahu dia senang menyaksikan* punyaku atau menertawai punyaku? Akupun tidak ingin* kalah, kutarik perlahan-lahan celana dalamnya tidak banyak* demi sedikit, ternyata Gita telah* tidak kemudian* dia tarik sendiri celana dalamnya dan melemparnya ke belakang, belum sempat di dalamnya menyentuh lantai telah* melumat bibirku, ‘oohh .. ‘, kami kini* benar-benar telanjang. Gita mulai* leherku tapi tersebut* tidak lama sebab* aku keburu membalik badanku. Sekarang gantian ia yang telentang di kasur.

Pemandangan yang estetis* namun* kali ini tidak diinginkan* lama-lama memandang, langsung aku berada diatasnya, kedua tangannya telah* kupegang dan tahan di samping kiri-kanan kepalanya. Aku ciumi lehernya, bibir, leher lagi. ‘Hhmmhh.., uugghh.., sstt’, cuma itu* yang dia katakan. Ciumanku telah* ‘bosan’ di leher. Aku mulai turun. gerakanku itu, tiba-tiba melihat dia mengusung* penerusan. Peluang ini tidak kusia-siakan. Aku langsung ciumi buah dada nya sebelah kiri, sedang tangan kananku mengelus-elus buah dada nya yang kanan.

Kali ini tangan kirinya telah* memegang kendali. ‘sstt.., hh.., sst..’, mulutnya berdesis laksana* ular. Dia unik* rambutku dan mengawasi* mengawasi buah dada sebelah kanannya. Dengan t’. Lalu dengan gigiku aku mulai mengigit-gigit tidak banyak* meletakkan susunya, kiri-kanan, kiri-kanan tidak jarang* kali* secara bergantian dan adil. Sementara dari mulut Gita terus terbit* kata, ‘Teruuss.., teruuss.., yang keras.., aahh.., gigit Wan.., gghh.., sstt’. Sementara punyaku telah* tegang keras.

Kepalaku mulai turun lagi namun* tiba-tiba ia berteriak kecil, ‘Wan.., Iwan.., uugghh.., kini* ajjaah.., masuk’iin.., nggak usah pake mulut lagi.., masukin sekaraanng.. , plizz..’. Saya langsung di dorongnya. Sekarang ganti posisi, aku yang telentang dan Gita sedang di* atasku. Selangkangannya mencari-cari posisi, meski* aku tahu tentu* yang dia cari adalah* punyaku. Begitu posisinya tepat, Gita mendorongnya dengan kuat. ‘uughh..’, sedang aku tidak banyak* berteriak, ‘aahh’. Punyaku telah* terbenam di dalam selangkangannya. Gita terus menggerak-gerakan pinggulnya ke atas, ke bawah, kiri-kanan, naik-turun segala arah gerakan yang ia lakukan.

Baca Juga : Cerita Dewasa Kenakalan Sepupuku Dengan Ayah Angkatnya

matanya terpejam, melihat digigit seperti menyangga* sesuatu, tidak jarang* dari mulutnya terbit* kata-kata, ‘oohh.., sshht., uugghh.., sshhss.., ssshiitt.., aacchh.., oouuhh..’ , nafasnya bukan lagi* teratur. Kedua tangannya meremas-remas buah dada sendiri, kepalanya tidak jarang* menengadah ke atas, ‘uugghh.., oohh.., sshhsstt’. Sedangkan aku melulu* mampu meremas sprei di kiri dan kananku dengan kedua tanganku. Gigi atas dan gigi bawahku telah* saling menekan, tidak ada ucapan-ucapan* yang terbit* dari mulutku melulu* suara nafasku saja yang terdengar. Kali ini aku yang membungut* alih ‘kekuasannya’ gantian kudorong namun* dia justeru* tengkurap, menyaksikan* pantatnya yang putih mulus.

Aku jadi tambah bernafsu guna* segera masukkan aku ke punyanya. Aku mengangkat pinggulnya dan Gitapun mengusung* tubuh dengan kedua tangan dan kaki. Sekarang posisi laksana* mau. Langsung tanpa tunggu masa-masa* lagi aku mengupayakan* memasukan ‘adikku’ ke lubang vaginanya. ‘Mmaasuukkiinn.., ceeppeett..’, Gita memohon kepadaku namun* belum sempat menyelesaikan* kalimatnya punyaku telah* masuk ke vaginanya. ‘oohh..’, dari mulutku terbit* kata tersebut. Dengan motivasi*​​aku mulai mendorong ke depan, menarik, mendorong, unik* terus menerus seiring dengan gerakanku.

Gerakannyapun bertentangan* dengan gerakanku, masing-masing* aku mendorong ke depan ia mendorong pantatnya ke arahku diiringi desahan dan leguhan dari mulut. ‘uugghh.., aahh.., Sssttt.., oohh.., uugghh..’. Tiba-tiba ia berteriak, ‘Iwaann.., sshh.., oohh’, aku menikmati* sesuatu terbit* dari dalam lubangnya tapi, ‘oohh.., oohh.., aacchh.., Gitt.., aakku.. ‘ . akupun merasakan kesenangan* yang tiada bandingannya dengan keluarnya cairan dari dalam punyaku. ‘oohh.., uugghh’, tidak sedikit* sekali cairanku keluar. ‘Terus Wan.., keluarin semuanya..’, pinta Gita.

Tubuhku terasa telah* tidak kuat* lagi berdiri. Aku langsung telentang di kasur, sementara* Gita langsung memelukku dan membubuhkan* kepalanya di dadaku. ‘Gita sayang sama Iwan’, melulu* itu yang terbit* dari mulutnya, kemudian* matanya terpejam seraya* terus memelukku.

‘Iwan pun* sayang sama Gita’, kataku. Akhirnya sejak itu* aku dan Gita sah* pacaran.,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Indojaya168