Cerita Dewasa Gairah Sensasi Beradu Kelamin

Posted on
Agen878

Cerita Dewasa Gairah Sensasi Beradu Kelamin – Perkenalkan namaku Anis dan saat ini aku akan membagikan sebuah kisah mengenai seorang suami dan istri yang belum lama menikah dan mereka tinggal di sebuah daerah yang ada pada suatu daerah yang jauh dari sebuah pegunungan dan terhindar dari keramaian dengan harapan agar mereka bisa terhindar dari pergaulan, bahaya lalu lintas dan orang lain. Di samping itu, ia juga menghindarkan istrinya dari gangguan laki-laki lain yang disukai karena istrinya sangat cantik sehingga menjadi bantahan di kampung asalnya.

Mereka berdua hidup dalam kesunyian, namun tidak kesulitan makanan karena selain berkebun dan bertani, juga rajin ke sungai untuk menangkap ikan sebagai lauknya. Beberapa bulan kemudian, sang istri mulai mengidam, sehingga membutuhkan makanan tertentu sesuai selera dan keinginannya sebagaimana layaknya perempuan lainnya yang mengidam.

Agen878

Suatu hari, sang istri tampak tidak enak perasaannya dan selalu emosi akibat pengaruh dari janin yang dikandungnya.

“Mas, boleh gak minta tolong sama kamu?” tanya sang istri lembut.
“Soal apa dinda?” sang suami balik bertanya dengan lembut pula.
“Aku ingin sekali makan kepiting, Mas. Boleh ngga Mas mencarikan aku?”
“Wah, wah, wah, bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan kepiting di puncak gunung seperti ini?” kata sang suami.
“Tolong cari donk. Berusahalah. Pasti Mas bisa menemukan. Kalau aku nggak masalah, tapi yang ini nih,” desak sang istri sambil menunjuk janin yang ada dalam perutnya.

Setelah lama didesak, akhirnya sang suami pergi juga meninggalkan rumah untuk mencari kepiting. Dia berjalan di tengah hutan dan naik turun dari gunung yang lainnya, menelusuri beberapa sungai-sungai kecil yang ada di gunung. Ketika ia menemukan sebuah sungai yang agak deras airnya, ia lalu turun dan mencari lubang-lubang yang ada di pinggirnya.

Setelah ia menemukan suatu lubang yang dan dalam, ia lalu memasukkan tangannya ke dalam lubang itu. Bahkan mengeluarkan udara dan lumpurnya hingga lubang itu bertambah besar dan dalam, sampai ke seluruh tubuhnya bisa masuk. Suluruh basah tubuhnya kuyup dengan lumpur bercampur keringat karena ia merasa penasaran dan yakin jika dalam lubang itu ada kepitingnya.

Dalam keadaan bermandikan keringat yang bercampur lumpur, ia mengkonsentrasikan diri hanya pada isi lubang itu, ia membuka seluruh pakaiannya basah lagi kotor itu. Tiba-tiba ia mendengar suara kaki berjalan di air. Semakin lama kedengarannya semakin dekat, bahkan terdengar ada suara manusia yang sedang bicara, sehingga ia merasa sangat dekat karena selama ia tinggal di daerah itu belum pernah bertemu dengan orang lain kecuali hanya dengan istrinya. “Jangan-jangan orang itu adalah penjahat atau orang hutan”, demikian pikirnya. Ia lalu masuk juga ke dalam lubang itu unutk on tanpa busana sehelaipun. Dalam keadaan menungging dengan pantat mengarah ke lubang tersebut, ia melihat melalui selangkangannya, ternyata ada 4 betis berdiri hanya kurang lebih 30 cm dari pantatnya.

Ia sangat ketakutan sehingga tanpa sengaja meneteskan air mata melalui kontolnya yang lemas lemas.

“Wah, ini ada buah-buahan langka dan terlihat indah sekali” sang suami mendengar suara dari salah seorang yang melihat itu. Bahkan orang itu sempat meraba dan menarik-narik kontol sang suami yang disangkanya buah-buahan, sehingga sang suami terus mengingkatkan hingga menyebabkan air liurnya tambah banyak keluar. Ia tak mau bergerak karena takut diketahui kalau ia adalah manusia.

“Buah apa itu teman?” tanya salah seorang dari mereka yang berdiri itu sambil ikut memegang dan menarik-narik buah tergantung itu.

Tiba-tiba pantat sang suami mengeluarkan suara kentut sehingga kedua orang hutan yang berdiri itu mencium bau busuk. Lalu temannya menjawab..

“Mungkin inilah yang menyebabkan buah busuk-busuk” lalu kedua orang itu akan meninggalkan tempat itu dan berniat memetik buah-busuk itu kembali setelah menebang kayu di hutan.

Setelah kedua orang hutan itu pergi, maka sang suami yang masuk ke lubang tadi keluar dan pulang-buru ke rumahnya sambil menjinjing pakaiannya. Sesampainya di rumah, sang istri heran karena suaminya berlari terengah-engah tanpa mengenakan pakaian.

“Kok begitu Mas. Ada apa? Mengapa lari seperti orang jaringan? Mana kepitingnya?” Pertanyaan sang istri bertubi-tubi pada sang suami, namun ia tetap belum mampu menjawab karena sangat lelah dan ketakutan.
“Mm.. maaf dinda, aku tidak menangkap menangkap kepitingnya” jawab sang suami dengan nafas terengah-engah.
“Kenapa Mas? Ada masalah apa di sungai?” desak sang istri.
“Anu.. Anu dinda. Sulit ditangkap karena lubangnya terlalu dalam. Besok saja yah,” rayu sang suami pada istrinya.
“Masa hanya kepiting tak bisa ditangkap. Kalau gitu kita gantian saja. Mas jaga rumah dan saya yang akan menangkap kepitingnya” ujar sang istri tidak sabar

Menjelang sakit hari, sang istri berangkat ke sungai setelah mendapat petunjuk dari sang suami sebelum waktunya. Meskipun sang suami tidak mengizinkan pergi agar jangan sampai bertemu dengan kedua orang hutan tadi, tapi karena tak mau cekcok dan membuat marah istrinya, maka dengan terpaksa dan akhirnya memungkinkan ianya.

Sesampainya di sungai tersebut, sang istri turun dan akhirnya menemukan lubang yang baru saja dimasuki suaminya. Ia juga merasa penasaran dan yakin kalau dalam lubang itu ada kepitingnya, sehingga buru-buru kotor ia melepaskan seluruh pakaiannya agar tidak masuk ke lubang itu dengan posisi seperti suaminya tadi sewaktu dalam lubang. Belum sempat ia memasukkan bermain ke luang-lubang kecil yang ada dalam lubang besar itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang sedang bicara, bahkan kedengarannya berjalan menuju ke arahnya.

“Wah, celaka teman. Kita didahului orang lain. Buah busuk-busuk itu sudah tidak ada di tempatnya. Rasanya baru saja dipetik orang lain dengan menggunakan pisau tajam. Ini buktinya kata salah seorang dari mereka yang berdiri bertahan di dekat pantat sang istri sambil meraba, mengelus dan menusuk-nusuk lubang video sang istri karena dianggapnya sebagai bekas petikan/potongan buah tadi.

orang hutan itu tidak lagi jika baru ‘buah’ itu baru saja dipetiknya karena kedua kali saya tidak merasakan sedikit pun basah, berlubang dan halus seperti potongan pisau tajam.

“Untung saja vaginaku halus, mulus, putih tanpa ditumbuhi bulu sehelaipun, sehingga mereka tidak curiga kalau itu adalah daging montok wanita yang sedang basah karena ketakutan mengeluarkan air kencing”, demikian pikir sang istri.
“Ayo teman, kita cari dan kejar si pemetik buah impian kita itu. Ia pasti belum jauh dari tempat ini, karena bekas petikannya masih basah dan getahnya masih menetes” ajak salah seorang dari orang hutan itu.

Akhirnya mereka segera pergi dan mencari buah yang dicurigai telah memetik busuk-busuk impian mereka itu.

“Oke, kita bagi sasaran. Kamu ke kiri dan aku ke kanan. Ia pasti masih berada di sekitar sini karena bau buah-buahan itu masih sangat terasa busuknya”. Kata orang hutan yang satunya lagi seperti yang didengar oleh sang istri ketika keduanya baru saja meninggalkan lubang kepiting itu.

tempatbacol.com

Pikir sang istri, bau busuk itu tentunya adalah bau kentut. Setelah itu, sang istri terburu-buru keluar lalu pergi meninggalkan lubang sambil berlari menjinjing pakaiannya. Sesampainya di rumah, keadannya bertahan sama dengan keadaan ketika mengalami hal serupa. Ia tak mampu berkata-kata dan sulit ia menjelaskan kejadian tadi. Mereka saling menyembunyikan apa yang dialaminya di sungai tadi, meskipun dalam hati mereka saling curiga tentang kemungkinan kejadian yang sama.

keesokan harinya, sang suami bersama sang istri wajib berangkat bersama-sama ke sungai mencari kepiting dengan keyakinan kalau kedua orang hutan kemarin itu tidak akan lewat di situ lagi karena buah impiannya dianggap tidak ada lagi. Keduanya langsung menuju ke lubang yang masih diyakini kepitingnya.

“Mas, coba sekali lagi. Kamu saja yang masuk biar saya yang jaga di luar kalau-kalau ada orang yang melihat kita. buka saja pakaiannya Mas biar tidak kotor” kata sang istri ketika mereka sampai di dekat lubang itu.

Setelah sang suami masuk dengan posisi seperti semula dalam keadaan telanjang, sang istri menyaksikan kontol suaminya sedang tergantung di selangkannya sambil berpikir bahwa mungkin kontol suamiku inilah yang dikatakan oleh kedua orang hutan kemarin sebagai buah busuk-busuk, sehingga setelah ia melihat saya, ia lalu jika buah itu sudah dipetik.

“Bagaimana Mas? Sudah dapat kepitingnya?” tanya sang istri pada suaminya sambil melihat keadaan suaminya dalam lubang.
“Belum dinda, tapi sudah hampir kutemukan. Sabarlah sebentar dinda”
“Ini kepitingnya Mas. Saya sudah menangkapnya” canda sang istri sambil memegang dan menarik-narik benda yang tergantung di selangkangan sang suami sambil tertawa terbahak-bahak.

Nampaknya sang istri tak mau melepaskan ‘kepiting’ yang ditangkapnya itu, malahan ia semakin memainkannya, mengelus dan mengocoknya hingga kepitingnya semakin keras, membengkak dan membuat pinggul sang suami bergerak-gerak.

“Sudahlah dinda. Jangan ganggu aku dulu. Kepitingku itu tak sulit ditangkap karena akan datang sendiri ke rumah, bahkan sebentar lagi di rumah pasti kuserahkan untuk kamu makan sepuasnya” canda sang suami.

Karena sang suami sudah tak tahan lagi dipermainkan kontolnya sementara sang istri tak mau berhenti memainkannya, malah tampak menginginkannya saat itu, maka sang suami memutuskan keluar dulu.

“Kalau gitu kita gantian cari kepitingnya dinda. Aku kecapean” kata sang suami sambil keluar dari lubang itu dan didukung oleh si istri setelah ia juga menelan dirinya karena takut akan kotor pakaiannya.
“Kamu yang jaga di luar yah Mas. Bilang kalau ada orang lain yang melihat kita, tapi jangan macam-macam loh..,” kata sang istri.

Setelah posisi sang istri sama dengan posisi sang suami tadi, tiba-tiba sang suami meraba-raba pantatnya lalu turun ke selangkangan dan terus bersama sang istri dan memainkannya seperti halnya ia dipermainkan tadi.

“Wah, ini ‘kepiting’ betinanya sudah kutangkap dinda. Indah sekali dan pasti nikmat dimakan. Boleh aku makan dinda?” tanya sang suami sambil mengelus dan menusuk-nusuk lubang pada istrinya yang sedang menungging dalam lubang.

Sang istri tampak menikmatinya dengan menggerak-gerakkan pinggulnya dalam lubang. Sementara sang suami sejak tadi terangsang dari dalam lubang tak mau berhenti memainkan, bahkan mencium dan menjilatinya lalu mengatakan jika ia sedang memakan kepitingnya mentah-mentah.

“Ayo Mas. Mana kepitingnya? Adu donk ‘kepiting’nya dengan ‘kepiting’ku” canda sang istri tapi tampak serius karena memang betul-betul sudah terangsang.

Sang suami segera mengarahkan mulut ‘kepiting’nya ke mulut ‘kepiting’ sang istri lalu mengadunya. lambat tapi pasti, kedua buah langka itu saling berbagi di mulut lubang kepiting. Mula-mula sangat sulit masuknya karena ‘kepiting’ sang istri agak masuk ke dalam, namun karena sang istri mengerti dan memang membutuhkannya, maka pantatnya pun terdorong sedikit keluar dari lubang hingga sang suami sangat mudah memasukkan kepala ‘kepiting’nya ke dalam mulut ‘kepiting’ sang istri. Suara yang ditimbulkan dari pertarungan antara kedua ‘kepiting’ langka itu, sangat indah dan jelas terdengar karena berada di mulut lubang, apalagi sedikit basah karena percampuran antara air khas ‘kepiting’ dengan air sungai serta air lumpur.

“Akhh.. Uuhh.. Ikkhh.. Ookkhh.. Eennakk. Nikkmat sekali kepitingnya Mas. Terus.. Teruss.. Ayo hantam teruss Mass” erang si istri tersentak-sentak sambil menggerak-gerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Si suami juga mengerang hal yang serupa.

Baca Juga : Cerita Sex Bapak Mertua Menjadikan Aku Budak Sex

karena sang istri telah merasa lelah menungging, ia meminta sang suami untuk berhenti bergerak, tapi sang suami mungkin tidak mungkinnya. Akhirnya sang istri menarik pantatnya masuk lebih dalam sehingga ‘kepiting’ sang suami dengan sendirinya keluar dan lepas dari lubang ‘kepiting’ sang istri, bahkan perut sang suami dengan keras menghantam mulut yang dimasuki sang istri. Namun tak lama setelah itu, sang istri kembali menjulurkan keluar pantatnya dalam keadaan terbalik yakni telentang dalam lubang, sehingga memudahkan sang suami memasukkan kembali ‘kepiting’nya ke dalam mulut ‘kepiting’ sang istri. Pertarungan pun dimulai kembali yang diiringi dengan musik khas yang keluar dari pertarungan kedua ‘kepiting’ itu.

“Decak.. Deukk.. Decikk.. Plagg.. Plugghh.. Pologg” suara itulah yang ditawarkan kesunyian di sungai itu yang dibarengi pula dengan suara nafas saling mengejar dari kedua mulut pasangan suami istri yang sedang mengidamkan kepiting itu.
“Maass.. Mass, ‘kepiting’ku mau pipis” kata sang istri ketika sang istri dengan gencarnya menghentakkan ‘kepiting’nya keluar masuk ke mulut ‘kepiting’ sang istri tanpa kata-kata sang istri.
“Biar saja pipis, karena ‘kepiting’ku juga mau pipis, biar bersamaan saja” kata sang suami tetap mendukung kocokannya dan meraba-raba serta meremas-remas kedua benda kenyal yang ada di dada sang istri, meskipun tanpa melihatnya terletak agak ke dalam.
“Nnikkmatnnya kepitingnya yach” secara bersamaan kedua pasangan itu tiba-tiba mengucapkan kalimat yang sama saat ‘kepiting’ keduanya mengeluarkan cairan hangat yang dianggapnya sebagai air pipis ‘kepiting’.

Akhirnya ditemukan di tempatnya masing-masng. Sang suami berbaring di luar lubang sementara sang istri di lubang. Setelah mencium, sang istri lalu keluar dan pipi dan bibir sang suami yang masih berbaring di pinggir sungai.

“Mas, ayo bangun. Kita pulang aja yuk. Kita sudah tangkap dan nikmatin kepitingnya. Aku puas sekali dan tak tertarik lagi mencari kepiting beneran” kata sang istri sambil membangunkan suaminya dengan suara sedikit berbisik di telinganya.
“Wah kita terlalu jauh mencari kepiting dinda, padahal ada kepiting yang kita bawa masing-masing. Lebih nikmat lagi memakannya, bahkan tak pernah habis. Ayo dinda, nanti di rumah kita makan lagi kepiting ini.. Ha.. Hha.. Hha” kata sang suami sambil merapikan kembali pakaiannya bersama sang istri lalu mereka tertawa terbahak sambil berpelukan dan berciuman, lalu kembali ke rumah.

Setibanya di rumah, mereka kembali mengadu ‘kepiting’ beberapa kali dengan posisi yang lebih nyaman untuk bergerak. Sejak saat itu, sang istri tak pernah meminta suaminya untuk mencari kepiting di sungai dan sejak itu pula keinginannya terhadap kepiting hilang hilang.

Indojaya168